Minggu, 12 Mei 2013

[Review] Kehidupan yang Berdoa by Paul E. Miller

Judul : Kehidupan yang Berdoa - Berhubungan dengan TUHAN di Tengah Dunia yang Sibuk
Judul Asli : A. Praying Life - Connecting With God in a Distracting World
Penulis : Paul E. Miller
Penerjemah : Lily Endang Joeliani
Penerbit  Omid Publishing World
Cetakan : I, Januari 2011



 Bagaimana kehidupan doa Anda? Kita mungkin sering mendengar istilah bahwa doa adalah nafas hidup orang Kristen, namun sejauh mana kehidupan doa kita? . Walau tampaknya mudah kita pada umumnya terus berjuang untuk memiliki kehidupan doa yang lebih baik dan berarti. Seringkali doa kita sekedar formalitas, buru-buru, dangkal, dan asal-asalan. Lewat buku “Kehidupan yang berdoa”, Paul Miller memberikan pada kita semua sebuah cara yang dapat menolong kita yang mungkin jenuh dalam berdoa dan ingin berdoa dengan lebih bergairah lagi.  

Bagi Miller doa bukanlah sekedar sebuah permintaan dimana Tuhan pasti mengabulkanNya secara instran. Doa adalah sebuah hubungan kita dengan Allah, doa adalah sebuah proses pertumbuhan.  Ketika kita berdoa dan menantikan jawaban doa itulah yang membuat kita berkomunikasi dengan Tuhan dan membuat kita semakin bertumbuh. 

Buku ini dibuka dengan sebuah bab tentang rasa fustrasi terhadap doa karena pada kenyataannya saat kita berdoa kita bukannya berdoa melainkan sibuk dengan khayalan dan kekhawatiran kita.  Satu bab berikutnya  menjelaskan arah yang hendak kita tuju dalam berdoa atau apa yang hendak kita capai dalam berdoa.

Setelah dua bab pendahuluan, Miller membagi buku ini dalam 5 bagian, Bagian 1, “Belajar Berdoa sepeti Kanak-Kanak” mengajak kita mencermati prinsip relasi antara kita dengan Tuhan yang bagaikan hubungan antara seorang ayah dengan anak-anaknya.  Pada Bagian 2, “Belajar Percaya Lagi”, kita diajak masuk lebih dalam dan melihat beberapa kebiasaan orang dewasa yang bisa menumpulkan hati kita terhadap doa dan menghalangi kita masuk dalam hadiran Bapa. Bagian 3, “Belajar Meminta Kepada Bapa” akan membantu kita memeriksa, hal-hal apa saja yang menghalangi kita untuk meminta kepada Bapa. Sementara, di bagian 4 “Hidup Dalam Kisah Bapa”, menegaskan pada kita jika  kita memiliki kehidupan yang berdoa, mudah bagi kita untuk menyadari dan memasuki rencana yang sedang Allah persiapkan untuk kita.  Bagian terakhir, “Berdoa Dalam Kehidupan Nayata,” memperkenalkan kepada kita beberapa alat bantu dan cara-cara sederhana untuk berdoa.

Miller menulis buku tentang kehidupan doa ini bukan sekedar berteori melainkan juga dilandasi atas pengalaman hidupnya, tentang dirinya dan keluarganya khususnya dalam pergumulannya mengasuh dan membesarkan salah seorang anaknya yang autis. Miller membuka kehidupan diri dan keluarganya apa adanya termasuk kelemahannya, kekecewaannya, kemarahannya, pertobatannya, dll. Semua itu dikisahkan Miller  dalam buku ini apa adanya, tidak terkesan didramatisir  namun hal inilah yang membuat buku ini menjadi begitu membumi, praktikal, dan menginspirasi pembacanya untuk membangun kehidupan doa yang bergairah.

“Jika Anda berpikir untuk menyerah dan berhenti berdoa. Jangan lakukan itu! Setidaknya, tundalah sampai Anda membaca buku ini. Jika Anda sudah membacanya, Anda akan sangat berterimakasih kepada saya karena telah menyarankannya bagi Anda” 

Steve Brown, dosen reformed Theological Seminary

Tentang Penulis

Paul E. Miller adalah direktur dari seeJesus.net, suatu organisasi yang mengembangkan bahan-bahan penelaahan alkitaa interaktif bagi kelompok-kelompok kecil. Ia adalah penulis buku Love Walked Among Us (Nav Press), Ther Prayer Life Study, da The Person of Jesus Study, suatu bahan pendalaman alkita interaktif tentang keajaiban Yesus dan kasihNya.  Ia juga mengajar dalam Jesus Weekends, seminar-seminar Person of Jesus, dan seminar-seminar Prayer Life. Paul dan istrinya, Jill, memiliki enam anak dan tinggal dekat Philadelphia.



@htanzil

Rabu, 10 April 2013

[Review] Messy Spirituality by Michael Yaconelli

Judul : Messy Spirituality (Kerohanian yang Kacau)
Penulis : Michael Yaconelli
Penerjemah : Devi Sutarsi
Penerbit : Omid Publishing House
Tebal : 176 hlm


Pernahkah kita merasa bahwa kerohanian kita tidak bertumbuh, mandeg, kacau, bahkan berantakan? Semua itu biasanya ditandai dengan kurang tekunnya berdoa, tidak rajin membaca Alkitab, kurang bersaksi, mudah tersinggung, dll. Tentunya kita semua pernah merasakannya, betapapun kita telah mengikut Yesus sekian lama namun bukan mustahil jika suatu saat kita mengalami kondisi dimana kerohanian kita begitu kacau atau berantakan. Jika sudah begini kita biasanya merasa frustasi dan semakin tenggelam dalam kehidupan rohani yang kacau.

Namun jika ini terjadi bukan seharusnya kita semakin tenggelam dalam kerohanian yang kacau, justru disaat kerohanian kita berada dalam titik terendah inilah kita harus kembali pada kasihNya karena iman yang sejati itu dimulai dari sebuah pengakuan bahwa kita tidak akan pernah bisa mempraktekkan iman dan kerohanian kita secara utuh dan sempurna. Itulah yang dibahas oleh Mike Yaconelli dalam bukunya Messy Spirituality (Kerohanian yang Kacau)

Melalui buku ini penulis menyatakan bahwa kita mungkin sering menganggap bahwa  kehidupan rohani yang baik adalah bagaikan sebuah kompetisi dimana tujuan kita adalah  mencapai kerohanian yang sempurna. Tidak salah,  namun kadang apa yang kita kejar itu membuat kita justru kehilangan keintiman kita dengan Yesus, kita tidak lagi mencari Allah melainkan mengejar ambisi kita untuk menjadi sempurna 

"Kerohanian bukanlah tentang kompetisi melainkan keintiman. Kerohanian bukanlah tentang kesempurnaan melainkan tentang keterhubungan. Kehidupan rohani dimaulai saat kita memasuki kekacauan hidup. Menerima kenyataan bahwa kita lemah, memiliki kehidupan yang cacat merupakan awal dari kerohanian, bukan karena kerohanian akan menghapus kelemahan kita namun karena alih-alih mencari kesempurnaan kita kini mencari Allah, Dia yang hadir di tengah-tengah kekusutan hidup kita. Kerohanian bukanlah tentang memperbaiki (kerusakan kita) melainkan tentang Allah yang hadir di dalam kemelut ketidakberesan kita." (hlm22)

Buku ini juga memaparkan pada kita bahwa murid-murid Yesus juga pada dasarnya adalah orang-orang yang kacau dan tidak sempurna namun Yesus justra suka bersama mereka. Kenyataan ini tentunya menegaskan  bahwa Yesus tidak mencari orang-orang yang sempurna. Kadang kita terjebak dalam pemikiran bahwa kita harus menjadi sempurna sehingga pada akhirnya kerohanian kita hanyalah topeng dan penuh kepura-puraan. Dengan demikian kerohanian yang kacau adalah gambaran dari kekristenan yang dijalankan oleh sebagian besar kita namun hanya sedikit yang mengakuinya.

Penulis juga menyatakan bahwa kerohanian yang kacau menyingkap mitos kesempurnaan karena kerohanian yang kacau sebenarnya adalah pelatihan kerohanian yang sesungguhnya, tempat persemaian iman, tempat Yesus sejati bertemu dengan kita yang asli karena kerohanian bukanlah tentang kesempurnaan melainkan tentang memercayai Allah di dalam ketidaksempurnaan kita.

Pada intinya buku ini memberikan sudut pandang baru bagi kita untuk melihat kekacauan, kemandekan, atau ketidaktertiban yang kita alami. Kalaupun kita mengalami pertumbuhan rohani yang lamban, itu bukanlah sebuah kegagalan semata melainkan sebuah kesempatan untuk melibatkan Yesus dalam kekacauan kita.

Buku ini juga tampaknya mencoba meruntuhkan anggapan-anggapan salah soal kesempurnaan, pertumbuhan rohani, dll yang mungkin telah terpatri dalam benak kita sehingga kita terjebak dalam tuntutan persefeksionisme rohani.

Sebagai contoh, dalam hal pertumbuhan rohani mungkin tanpa disadari kita ingin bertumbuh dengan cepat seperti seorang pelari yang berlari cepat untuk mencapai garis finish. Jika demikian maka kita akan kehilangan makna dari sebuah pertumbuhan dan menganggap bahwa pertumbuhan rohani yang cepat adalah sebuah keharusan. Dalam hal ini penulis menyatakan dengan tegas bahwa yang menghambat pertumbuhan kita bukan hanya dosa, melainkan kecepatan

" Pertumbuhan rohani bukanlah berlari cepat, seperti misalnya rapat yang semakin banyak, pendalaman Alkitab yang semakin banyak, dan pertemuan doa yang semakin bertambah. Pertumbuhan rohani terjadi jika kita memperlambat kegiatan kita. Jika kita ingin bertemu dengan Yesus kita tidak bisa melakukannya sambil berlari... Kekristenan bukan tentang mengundang Yesus berlari dalam kehidupan bersama kita; melainkan menyadari Yesus sedang duduk di tempat peristirahatan

Dosa tidak selalu mengarahkan kita untuk mabuk-mabukan; dosa lebih sering membuat kita kelelahan. Keletihan sama melemahkannya dengan mabuk. Masalah pertumbuhan di dalam gereja modern bukanlah lambatnya pertumbuhan melainkan mengejar-ngejar pertumbuhan" (hlm 117-118)

Ada banyak hal lain yang dikupas dalam buku ini yang menyangkut kekacauan rohani. Pada akhirnya buku ini merupakan obat penawar atas tuntutan perfeksionisme atau kesempurnaan rohani di dalam diri kita. Dalam buku ini penulis memaparkan kebenaran yang memerdekaakan kita dari tekanan 'keharusan-keharusan' dan membuka mata kita untuk memahami kebenaran rohani tentang arti dikasihi, terlepas dari kegagalan dan hal-hal lainnya, oleh Allah yang berkenan menmui kita dan mengubah diri kita di tengah kekacauan dan ketidakpastian hidup.

Dalam buku ini juga tersedia pertanyaan-pertanyaan diskusi dari setiap bab-nya sehingga buku ini tidak hanya dapat dibaca dan direnungkansecara pribadi tapi juga cocok untuk didiskusikan dalam kelompok-kelompok kecil.

Tentang Penulis :

 Michael Yaconelli (1942-2003) adalah pemilik dan salah satu pendiri organisasi Youth Specialties dan penulis buku Dangerous Wonder. Ia telah melayani selama empat puluh tahun sebagai gembala jemaat dan pelayanan baik kalangan pelajar/mahasiswa.

Pada tahun 1980-90an, sebagai editor majalah Kristen The Winttenberg Door, Mike menentang dampak negatif tele-evangelisme yang berlebihan. Ia prihatin terhadap "injil palsu" yang dijual kepada orang-orang melalui layar televisi. Selama hampir 20 tahun Mike menggunakan majalah The Door sebagai kendaraan untuk membeberkan penyesatan dan pembodohan yang dilakukan atas nama Yesus.


@htanzil




Senin, 08 April 2013

Sacred Marriage by Gary Thomas


Kedua buku ini merupakan paket buku berlangganan dari Komunitas Katalis periode Pebruari 2013. Satu buku merupakan bahasan tentang bagaimana Tuhan merancang pernikahan untuk menguduskan kita, dan satu lagi merupakan buku berisi bacaan renungan mingguan selama setahun bagi pasangan suami istri yang keduanya ditulis oleh Gary Thomas.

Berikut detail dan deskripsi dari masing-masing bukunya

Judul : Sacred Marriage - Bagaimana Seandainya Tuhan Merancang Pernikahan Lebih Untuk Menguduskan Kita daripada Untuk Menyenangkan Kita.
Penulis : Gary Thomas
Penerjemah : Natasha Leung
Penerbit : Katalis Media
Cetakan : Februari 2013
Tebal : 537 hlm

Secred Marriage diakui sebagai sebuah karya modern yang setara dengan berbagai literatur klasik. Perspektifnya yang unik dan menginspirasi tentang pernikahan sebagai sebuah disiplin rohani telah mempengaruhi banyak pemimpin gereja, guu-guru di berbagai bidang, dan ribuan pembaca di seluruh dunia.

Buku karya Gary Thomas ini tidak memberitahu Anda bagaimana cara membangun pernikahan yang lebih baik, tetapi menunjukkan bagaimana pernikahan Anda dapat menolong Anda memperdalam hubungan dengan Tuhan. Mulai dari praktik mengampuni, kenikmatan bercinta, hingga riwayat kebersamaan yang Anda rangkai bersama pasangan Anda, semua berpotensi membawa Anda makin mengenal dan bertumbuh dalam karakter Kristus.

Disertai dengan daftar pertanyaan diskusi untuk pasangan dan kelompok kecil, buku ini dapat memberi dampak yang besar bagi pernikahan Anda. Setikdaknya, buku ini akan mengubah Anda sendiri. Sebab, entah menyenangkan atau penuh pergumulan, pernikahan Anda dapat menjadi sebuah jalan masuk untuk hidup yang lebih dekat dengan Tuhan.

 Daftar Isi :
 
1. Tantangan Terbesar di Dunia
2. Menemukan Tuhan dalam Pernikahan
3. Belajar Mencintai
4. Penghormatan yang Kudus
5. Rangkulan Jiwa
6. Pembersihan oleh Pernikahan
7. Riwayat yang Kudus
8. Pergumulan yang Kudus
9. Jatuh ke Depan
10. Jadikan Aku Seorang Hamba
11. Orang-orang Kudus yang Menikah
12. Kehadiran yang Kudus
13. Misi yang Kudus
Epilog: Pasangan yang Kudus
Catatan


Judul : Devotion for Sacred Marriage - Renungan Mingguan Selama Setahun bagi Pasangan Suami IStri
Penulis : Gary Thomas
Penerjemah : Desiree
Penerbit : Katalis Media
Cetakan : I, Februari 2013
Tebal : 209 hlm

Buku ini berisi bacaan renungan untuk 52 minggu, pembaca akan diajak menyelami bagaimana pernikahan menjadi sarana untuk bertumbuh makin mengenal Tuhan, dan bagaimana pengenalan akan Tuhan itu memberi dampak dalam persoalan rumah tangga sehari-hari.

Sarat dengan beragam kisah nyata dan wawasan alkitabiah, buku ini akan membawa pasangan suami sitri makin dekat satu sama lain serta makin dekat dengan Tuhan.


Tentang Penulis :

Gary Thomas adalah seorang penulis dan pembicara kristen yang sudah melayani di 48 negara bagian di Amerika serta 6 negara lainnya.Kerinduannya adalah membawa orang mendekat pada Kristus dan sesama. Melalui tulisan, ia mendorong orang untuk bertumbuh secara rohani dan memiliki hubungan-hubungan yang lebih berkualitas. Beberapa bukunya yang terkenal: Sacred Influence, Sacred Marriage, Sacred Parenting, Authentic Faith (pemenang Gold Medallion Award tahun 2003). Gary melayani sebagai pembina rohani kampus dan mengajar di Western Seminary. Ia, istri dan 3 anaknya tinggal di Billingham Washington.
@htanzil

















































Senin, 14 Januari 2013

Down to Earth Sprituality


Judul : 
Down to Earth Spirituality (Spiritualitas yang Membumi)
Menjumpai Tuhan dalam Kehidupan yang Biasa dan Membosankan
Penulis : R. Paul Stevens
Penerjemah : Ellen Hanafi
Penerbit : Literatur SAAT
Cetakan : II, 2009
Tebal : 245 hlm

Kebanyakan buku tentang spiritualitas berpusat pada disiplin spiritual seperti doa dan pemahaman Alkitab. Namun hal itu dapat menyesatkan pemikiran kita bahwa Allah hanya dapat dirasakan kehadiran-NYA tatkala kita sedang melakukan hal yang bersifat "spiritual". Terlepas dari saat teduh pribadi atau di gereja pada hari minggu, Allah tampaknya jauh dan tidak relevan bagi kehidupan keseharian kita.

Paul Stevens memiliki pandangan yang berbeda secara radikal tentang spiritualitas Kristen. Ia mengatakan bahwa spiritualitas sejati bersifat sederhana. Kita dapat bertemu dengan Allah dalam kondisi biasa dan umum dalam kehidupan keseharian kita. Dengan petunjuk-petunjuknya yang diambil dari kisah Ayub di Alkitab, Stevens mencermati kisah dalam kitab Kejadian dan membukakan bagaimana momen-momen yang biasa dibuat menjadi luar biasa, diubahkan oleh kehadiran Allah di tengah hal-hal duniawi.

Sebagai seorang pemimpin, perencana, pekerja dan pengusaha, Yakub mewujudkan suatu kehidupan dari banyak segi dengan hasrat kuat dan spiritualitas yang sederhana. Yakub mendapati sesuatu yang kudus tidak hanya melalui penglihatan tentang tangga menuju surga dan pergulatan misterius dengan malaikat. Yakub juga bertemu dengan Allah dirumah dan ditempat kerja, pada saat makan dan pada saat tidur, dalam kesunyian dan dalam jalinan hubungan. Dari kelahirannya hingga kematiannya, melalui setiap jalan hidupnya, Ayub memandang Allah dalam detail pengalaman setiap hari.

                                       __________________________________

                             Review dan profil penulis dari Sdr. Danny Teguh Sutandio :

Prof. R. Paul Stevens, D.Min. memberi jawaban atas kebosanan hidup manusia yaitu dengan mengaitkan hidup manusia ini dengan Allah yang berdaulat. Beliau mengambil contoh kisah Yakub dalam Kejadian 25 s/d 50 mulai dari kelahirannya hingga akhir hidupnya ketika ia bertemu dengan Yusuf dan anak-anak Yusuf di Mesir.

Kisah-kisah tersebut dibagi menjadi 14 segmen kehidupan Yakub, yaitu: kelahiran, makan, keluarga, tidur, perkencanan, pernikahan, pekerjaan, pertobatan, seks, pulang, panggilan, pakaian, penyelesaian akhir, dan kematian. Ke-14 segmen tersebut didasarkan pada teks-teks di kitab Kejadian 25 s/d 50 disertai eksegese teks tersebut secara cermat dan aplikasi praktisnya bagi kehidupan Kristen masa kini.

Gabungan antara eksegese teks dan aplikasi praktis ini mendorong kita untuk menghidupi kehidupan yang berpusat pada Allah, sehingga dalam kehidupan ini, kita menemukan makna hidup yang terkait dengan Allah sebagai Sumber Hidup. Biarlah buku sederhana menjadi refleksi bagi kita yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan mata tertuju kepada Allah.


Rev. Prof. R. Paul Stevens, B.A., B.D., D.Min. adalah Professor emeritus bidang Marketplace Theology and Leadership di Regent College, Vancouver, Canada dan Adjunct Faculty di Biblical Graduate School of Theology, Singapore. Beliau telah menggembalakan gereja selama 20 tahun, konselor mahasiswa di InterVarsity Christian Fellowship, dan pebisnis (Habitat Woodcraft). Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di McMaster University; Bachelor of Divinity (B.D.) di McMaster Divinity College; dan Doctor of Ministry (D.Min.) di Fuller Theological Seminary, U.S.A. Beliau menikah dengan Gail dan telah dikaruniai 3 anak yang telah menikah dan 8 cucu. Beliau dan Gail tinggal di Vancouver sejak tahun 1969.


                                                              
                                                 _________________________

Daftar Isi :

Kata Pengantar oleh Charles Rigma
Pendahuluan : Spriritualitas yang Membumi

1. KELAHIRAN - Kisah Ribka : Kejadian 25:19-28
2. MAKAN - Kisah Esau : Kejadian 25:27-35; 27 :1-40
3. KELUARGA - Kisah Eshak : Kejadian 26-27
4. TIDUR - Kisah Para Malaikat : Kejadian 28 :10-22
5. COURTING (PERKENCANAN) : Kisah Rahel : Kejadian 29 : 1-14
6. PERNIKAHAN - Kisah Lea : Kejadian 29 : 14-30
7. PEKERJAAN - Kisah Laban : Kejadian 29:14-30; 31:10-13
8. PERTOBATAN - Kisah Allah-Manusia : Kejadian 32:26-28
9. SEKS - Kisah Dina : Kejadian 34
10. PULANG - Kisah Betel : Kejadian 35
11. PANGGILAN - Kisah Yusuf : Kejadian 37-50
12. PAKAIAN - Kisah Tamar : Kejadian 38
13. PENYELESAIAN AKHIR - Kisah Yehuda : Kejadian 42-50
14. KEMATIAN - Kisah Efraim : Kejadian 48:1-22; 49:29-33

Penutup
Lampiran A : Silsilah Keluarga
Lampiran B : Ringkasan Kisah - Kejadian 25-50
Catatan


@htanzil

Rabu, 26 Desember 2012

You Lost Me by David Kinnaman

[Info Buku Baru] 

Buku ini membahas tentang hasil penelitian di Amerika Serikat yang menyimpulkan mengapa para orang muda Kristen mulai meninggalkan Gereja, dan bagaimana agar mereka bisa kembali mengejar Kristus dengan sepenuh hati mereka.

Buku ini juga menjadi acuan untuk seminar  :

MISSING IN ACTION - Regaining the Lost Generation

 yang diadakan oleh Sekolah Tinggi Teologi Bandung (STTB) pada tgl 29-30 November 2012 di Kampus STTB, Bandung dengan pembicara sbb :



1. Jennifer Cuthbertson, D.Min (Coordinator for Trainer Development, Langham Preaching)
2. Pdt. Agus Gunawan, M.Th (Ketua STT Bandung)
3. Ev. Tan Giok Lie, Ed.D (Dosen Christian Education, STT Bandung)
4. Deddy Tedjakumara, M.M. (Executive Director, Prasetiya Mulya Executive Learning Institute)
5. Grace Emilia, M.Div (Dosen Spiritual Formation, STT Bandung)

Detail buku : 

Judul :

YOU LOST ME,
Mengapa Orang Kristen Muda Meninggalkan Gereja
Dan Memikirkan Ulang tentang Iman Mereka

Penulis : David Kinnaman
Penerbit : Visi Press & Sekolah Tinggi Teologi Bandung (STTB)
Cetakan : I, Nov 2012
Tebal : 264 hlm

Apakah gereja kehilangan generasi yang akan datang?
Separuh lebih dari jumlah keseluruhan remaja dan dewasa muda Kristen tidak lagi aktif di gereja. Jutaan orang Kristen muda lepas dari gereja (dropout) saat mereka memasuki masa dewasa. Mereka nyata, bukan sekadar angka statistik. Dan masing-masing mereka punya kisah sendiri.

“Saya tahu dari gereja bahwa saya tidak bisa memercayai Allah dan ilmu pe-ngetahuan secara bersamaan, jadi saya memilih untuk tidak memercayai Allah lagi.” —Mike

“Ketika saya menulis lagu yang tidak sama dengan lagu-lagu yang biasa di-nyanyikan orang Kristen, saya dikritik habis-habisan. Jadi saya harus menggunakan talenta saya untuk apa?” —Sam

“Sepertinya gereja mengajarkan seksualitas yang ketinggalan zaman.” —Dennis

David Kinnaman memfokuskan penelitiannya pada orang percaya yang masih muda dan menunjukkan faktor-faktor apa saja yang berkontribusi pada masalah dropout. You Lost Me menunjukkan mengapa orang Kristen berumur 18-29 tahun meninggalkan gereja dan memikirkan ulang tentang iman mereka.







Ditulis berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Barna Group, You Lost Me menyingkapkan bahwa komunitas Kristen gagal untuk memperlengkapi orang dewasa muda untuk hidup “dalam dunia tapi tidak berasal dari dunia”—untuk mengikuti Kristus di tengah perubahan budaya. Studi yang luas ini menyingkapkan kepada kita mitos orang muda yang keluar dari gereja dan meneliti konse-kuensi yang mungkin terjadi pada dewasa muda, dan gereja jika kita terus bertahan dalam status quo.

Perjalanan iman generasi selanjutnya adalah tantangan bagi gereja yang sudah mapan, tapi perjalanan iman itu juga bisa menjadi sumber harapan bagi komunitas iman. Kinnaman, dengan bantuan dari para kontributor dari berbagai spek-trum kekristenan menawarkan ide-ide bagi para gembala, dan dewasa muda agar mereka bisa kembali mengejar Kristus dengan sepenuh hati mereka.


Tentang Penulis

David Kinnaman adalah presiden  dan pemilik mayoritas Barna Group (Ventura, Calofornia, USA) , sebuah firma penelitian terkenal yang berfokus pada fenomena persimpangan antara iman dan budaya. David telah bergabung dengan Barna Group sejak tahun 1995. Sejak saat itu ia mendesain dan menganalisa ratusan proyek penelitian dari berbagai klien, antara lain American Bible Society, Billy Graham Evangelistic  Asociation, World Vision, Salvation Army, dll.

Kinnaman adalh co-outhor dari buku best seller unChristian: What a New Generation Really Thinks about Christianity, yang mengeskplorasi sikap pemuda usia 16-29 tahun dalam hubungannya dengan iman.

Situs resmi buku YOU LOST ME bisa dilihat di www.youlostmebook.org

@htanzil


Rabu, 28 November 2012

Pastoring With Passion by DR. David Holt




Untuk Pertama kalinya buku ini secara resmi diperkenalkan pada saat Pastor Conference ke-3, 2012 STT Amanat Agung yang mengambil tema yang sama dengan judul bukunya "Pastoring with Passion" yang diadakan STT Amanat Agung pada tanggal 29-30 Oktober 2012 yang lalu di kampus STT Amanat Agung, Jakarta.





Pdt. Andreas Himawan, D.Th. (Ketua STT Amanat Agung) memberikan sambutan dan promosi buku berjudul "Pastoring with Passion" karya Rev. David Holt, D. Min. yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.





Walaupun buku ini diberi judul yang spesifik Pastoring with Passsion yang ditujukan untuk para Pendeta/Gembala gereja namun melihat sub judul, kata pengantar, dan daftar isinya saya rasa buku ini juga sangat baik untuk dibaca oleh orang awam, terlebih bagi kita yang sedang melayani Tuhan.

Dalam kata pengantarnya Rev. David Holt mengatakan sebagai berikut

"Meskipun saya berharap setiap pendeta akan membaca buku ini, Pastoring with Passion khususnya relevan bagi kalian semua yang  menyadari gairahmu untuk Allah semakin tercekik oleh tuntutan-tuntutan pelayan, bekerja untuk sebuah kelompok parachurch, tetapi belum menemukan banyak buku yang bisa membantu, mengasihi pendeta Anda dan ingin tahu bagaimana Anda dapat mendukungnya secara efektif, sedang menyiapkan  pelayanan dan ingin memulai dengan kaki yang benar" (hlm 13-14)

Sedangkan Prof. Wayne Grudem Ph.D, seorang Profesor riset studi teologia dan biblika Phoenix Seminary, Arizona dalam kata pengantar untuk buku ini menyatakan sbb :

"Ketika Anda membaca halaman-halaman ini, saya percaya Anda akan ditantang di dalam suatu area demi area dalam kehidupanmu, sebagaimana  David menjelaskan apa yang diperlukan untuk setia kepada Allah di dalam berbagai komponen pelayanan pastoral. Buku ii berpusatkan pada Allah, Alkitab, serta doa dan iman. Berulangkali buku ini menonjolkan natur kerohanian sejati dari segala pelayanan yang bertahan lama. Buku ini dipenuhi dengan hikmat ilahi dan dengan kisah-kisah jujur tentang kesuksesan dan kegagalan  dalam berbagai situasi pelayanan" (hlm 12)

Berikut Daftar Isi dari buku ini :

Sambutan
Dedikasi
Prakata
Pendahuluan

Bab 1 : Hal Pertama Terlebih Dahulu : Gairah untuk Allah
Bab 2 : Memulai di Rumah : Gairah untuk Keluarga
Bab 3 : Tak Ada Kehormatan yang Lebih Besar : Gairah untuk Gereja
Bab 4 : Cacat Fatal dan Selimut Basah : Gairah untuk Kesucian
Bab 5 : Sebuah Jendela Terbuka dengan Kaa yang Bagus : Gairah untuk Firman dan Roh Kudus
Bab 6 : Rangkullah Kelemahan Anda : Gairah untuk Kerendahan Hati
Bab 7 : Memakai Topi yang Tepat : Gairah untuk Identitas
Bab 8 : "Maka Berfirmanlah Tuhan" : Gairah untuk Berkotbah
Bab 9 : Bukan Sebuah Pemanasan Khotbah : Gairah untuk Beribadah
Bab 10 : Mengalami Allah dalam Cara-cara yang Nyata : Gairah untuk Bangunan-Bangunan dan Kampanye-kampanye Besar.
Bab 11 : Jangan Menyerah : Gairah untuk Ketekunan dan Tetap Bertahan

Lampiran A : Teologi Identitas
Lampiran B : Kebenaran-kebenaran Mengenai Identitas Anda
Indeks Ayat Alkitab

Tentang Penulis 

Dr. David Holt memiliki berbagai gelar dari University of Georgeria (BBA), Trinity Evangelical Divinity School (MDiv, ThM), dan Trinity International University (DMN). Ia pernah melayani sebagai Pendeta Kampus di Grace Church, Edina, MN selama empat tahun, sebagai Pendeta Senior di First Evangelical Free Church, Onalaska, WI selamat tujuh belas tahun, dan baru-baru ini melayani sebagai Pendeta Pemuridan di Watkinsville First Baptist, Watkinsville Gerogeria.

Selain menggembalakan, David juga seorang konsultan Injoy Stewardship Solution (ISS). David Holt telah menikah dan dikarunai empat orang anak.


####


Rev. David Holt, D.Min. &  Ir. Johan Djuandy Th.M (penerjemah) 
saat menyampaikan materinya di Pastoor Conference  STT Amanat Agung 
yang diterjemahkan oleh Ir. Johan Djuandy, Th.M.


Suasana Pastoor Conrefence ke - 3 di kampus STT Amanat Agung, 29-30 Oktober 2012


Sumber foto :
http://www.sttaa.ac.id/news/content/pastors-conference-2012

@htanzil

Rabu, 31 Oktober 2012

[Info Buku Baru] : Not A Fan - Bukan Seorang Penggemar

Literatur Perkantas Jawa Timur baru saja merilis sebuah buku berjudul Not a Fan (Bukan Seorang Penggemar) sebuah buku tentang pertumbuhan iman dengan judul yang menarik dan cover hitam yang minimalis.

Mari kita lihat seperti apa buku ini?

Judul : Not A Fan (Bukan Seorang Penggemar)
Penulis : Kyle Idleman
Penerjemah : Selviya H Manaputty
Penerbit : Literatur Perkantas Jatim
Cetakan : I, Nov 2012
Tebal : 244 hlm




Deskripsi :

Apakah Anda seorang penggemar ataukah seorang pengikut?

 Kamus mendefiniskan kata penggemar sebagai "seorang pengagum yang bersemangat." Mereka ingin berada cukup dekat dengan Yesus untuk mendapatkan semua manfaatnya, tetapi tidak terlalu dekat juga sehingga mereka tidak harus mengorbankan apa pun. Para penggemar mungkin adalah orang-orang yang tidak pernah absen ke gereja, fasih dalam berdoa, dan selalu memberi persembahan. Tetapi apakah jenis hubungan seperti itu yang diinginkan Yesus dari Anda?

Sayangnya... Yesus tidak pernah tertarik untuk memiliki banyak pengagum berat dan bukanlah penggemar yang ia cari.

Not a Fan akan menantang Anda untuk menyadari apa arti sesungguhnya menjadi orang Kristen. Dengan berbagai pernyataan langsung dan tajam, Kyle mengundang Anda untuk melihat secara jujur bagaimana relasi Anda dengan Yesus. Panggilan-Nya untuk mengikut Dia terasa begitu radikal bagi kita, tetapi itulah yang diinginkan Yesus bagi setiap orang percaya.

Keluarkan stabilo Anda dan biarkan Kyle membawa Anda kembali ke inti daripada kekristenan. Anda mungkin tidak akan menikmati ketika ditantang untuk lebih dari sekadar membaca sebuah buku yang sangat jelas, menarik, dan menawan ini.

—Lee Strobel, penulis buku laris versi New York Times

Daftar Isi :

Bagian 1: Penggemar atau Pengikut? Sebuah Diagnosis Yang Jujur

Bab 1      Mau Dibawa ke Mana?
Bab 2      Sebuah Keputusan Atau Sebuah Komitmen?
Bab 3      Pengetahuan Tentang diri-Nya atau Keintiman Dengan-Nya?
Bab 4      Salah Satu Atau Hanya Satu-Satunya?
Bab 5      Mengikut Yesus  Atau Mengikut Aturan? 
Bab 6      Mengandalkan Diri Sendiri Atau Dipenuhi Oleh Roh Kudus?   
Bab 7      Hubungan Yang Ditegaskan

Bagian 2:  Ajakan untuk Mengikut Yesus

Bab 8      Setiap Orang Diundang — Sebuah Undangan Terbuka    
Bab 9      Mau Mengikut Aku — Sebuah Pengejaran Penuh Gairah      
Bab 10    Menyangkal Diri — Sebuah Penyerahan Total
Bab 11    Pikullah Salibmu Setiap Har i— Sebuah Kematian Tiap Hari

Bagian 3: Mengikut Yesus — Kemana pun. Kapan pun. Apa pun.

Bab 12    Kemana pun. Bagaimana Dengan Di Sana?
Bab 13    Kapan pun. Bagaimana Dengan Sekarang? 
Bab 14    Apa pun. Bagaimana Dengan Yang Itu? 

####

Tentang Penulis











Kyle Idleman adalah seorang pendeta dari Gereja Southeast Christian di Louisville, Kentucky, yang merupakan gereja terbesar kelima di Amerika Serikat. Dia juga merupakan seorang penulis dan presenter dari seri kurikulum video yang memenangi perghargaan yaitu H20: A Journey of Faith dan The Easter Experience.

####

Bagi yang ingin mencicipi sedikit lembar-lembar dari buku ini silahkan download di sini 
Resensi Not a Fan dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini

@htanzil